bali.
ya bali.
kemarin adalah kunjungan ketiga saya ke bali. setelah kunjungan pertama bersama keluarga pada tahun 2002. lalu kunjungan seorang diri dalam rangka bekerja, pada tahun 2007, lalu kemarin. dalam rangka menikmati bali.
pilihan mengunjungi bali saya buat setelah menimbang-nimbang sekitar 1,5 hari ketika harus memilih apakah hendak ke tana toraja, atau bali saja. pada akhirnya saya memilih bali, karena kalau saya memilih ke tana toraja, saya akan berangkat sendirian saja, dengan mengendarai bis umum selama 8 jam perjalanan dari makassar.
ah, saya sedang tidak ingin jalan-jalan sendiri. maka saya memilih bali.
bali untuk saya saja.
tidak untuk bekerja, tidak bersama keluarga. bersama saya, untuk melakukan apa yang saya suka.
meski… pada faktanya saya sedang dikejar-kejar deadline juga. tapi tak apalah, kapan lagi saya menyelakan waktu berlibur ke bali ala orang berada, kalau tidak saat itu. mumpung punya sedikit uang. mumpung uang yang sedikit itu belum habis untuk yang lain-lain.
bali, ya bali.
penuh dengan upacara. bau dupa dimana-mana. penjor di sepanjang jalan.
penjor yang membujur di seluruh sisi jalan itulah yang membuat saya sekarang jadi kangen bali. tiang2 bambu lurus melengkung, melambangkan naga basuki. menghiasi penjuru desa, membuat pemuda-pemuda bekerja sama, mendesain, membuat dan mengusung hingga memancangkan penjor.
akhirnya saya melihat jatiluwih juga. dengan sawahnya yang bertingkat-tingkat, dan hembusan angin yang semilir. saya juga pada akhirnya bisa juga mencuci muka di beji pura batu karu. pura di kaki gunung batu karu yang sedari dulu saya simpan gambarnya di komputer saya. saya pandang2i mengira-ngira… betapa sejuknya disana. karena anak-anak tangga dan lantainya berlumut, karena atap merunya yang sedikit dilingkupi kabut. apalagi ada bunga ada dupa disana. ada hutan dan gunung. sepertinya indah.
dan memang indah. seindah foto yang saya simpan.
ada film tentang perjalanan 3 hari untuk selamanya. saya, menempuh perjalanan itu selama kurang lebih 5 hari 5 malam. dan rasanya….. begitu saja.
ya bertengkar, jengkel, sedih, senang, datar, hingga makan bakso yang rasa tepung sambil lihat upacara agama di tepi laut di candidasa di bawah hajaran terik mentari. tapi ya begitulah.
hidup melaju, umur melaju, ingatan menua, umur berkurang, tapi semoga kita bisa tetap bisa menikmati tiap senyum yang tercipta.
di bali, dan disini.








Jailolo, Halmahera Barat











