h1

backpacking story = in their shoes

October 24, 2009

nginep di rs

 

 

 

 

gowa, 4.15 am

ceritanya aku kok merasa sedang backapacking ya. awalnya berangkat ke ternate untuk kerja, tapi semua jadi terasa seperti backpacking karena aku utuk..utuk… berangkat sendiri, dan sampe sana juga gak kenal sapa-sapa. sementara budget tipis sekali, karena per diem belum turun. halah.

akhirnya dengan segala kerendahan hati tuhan yang maha kuasa, aku bisa ketemu dan dibantu sama temen-temen di ternate yang berhati mulia. pagi-pagi dijemput di bandara, terus numpang istirahat di rumah mas AB yang baru kukenal hari itu. terus sorenya dianter ke rumah pak eman, dosen FE Unkhair yang juga baru hari itu ku kenal… untuk beberapa hari yang lama ke depan, rumah pak eman juga berfungsi sebagai basecamp kami. dipenuhi orang tiap hari, berisik, nyampah dan ikut numpuk berbagai macam kardus gede di ruang tengah rumahnya. untung bu eman orangnya santai banget, jadi nggak seteres dengan segala kelakuan dan tumpukan barang kami.

selama di rumah pak eman, tiap hari kami makan ikan. karena pak eman orang pulau makian (baca: makeang) yang nggak makan apapun selain nasi, ikan, dan kuah. sayur dan dabu-dabu (baca: sambal) apalagi. selama di rumah yang berlokasi di kelurahan kalumata, ternate selatan itu juga, aku berbagi kamar dengan surni. surni adalah keponakan pak eman.

setelah kegiatan di ternate selesai, kami menyeberang ke halmahera. disana kami lagi-lagi menumpang di rumah saudaranya mas udin, yang selalu meledek-ku yang asli jawa ini dengan kalimat “tak tung tung tung tung!” tiap kali dia nggak ngerti dengan istilah jawa yang aku ucapkan :p

muslim di maluku utara adalah muslim yang taat dan apa ya… aku nggak tau istilahnya. yang jelas, pada saat leyeh2 istirahat siang atau saat mengudang (menghibur) bayi, mereka akan menyenandungkan lagu2 kasidah berbahasa arab, dan bukan lagu anak-anak. kemudian, setiap subuh, segala  penjuru rumah pasti akan ramai dengan dengungan irama bacaan al quran yang dilagukan dan dibaca oleh semua orang yang baru selesai sembahyang subuh. wew.

aku berpikir, luka sisa konflik agama dulu turut mempengaruhi segala perilaku ketaatan ini. meski tidak terucap secara langsung, namun identitas religius menjadi unsur yang penting dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk membedakan dengan entitas religi yang lainnya.

lagi-lagi kata ija,

“meski di mulut kita bilang memaafkan, tapi dalam hati selamanya ingatan pedih itu tidak akan hilang…”, ujarnya pada saat kami menyusuri jalanan kampung sepulang dari daerah susupu yang mayoritas dihuni masyarakat non-muslim, sehingga anjing dan babi, dan rumah adat semcam balai beratap daun sagu, serta gereja banyak ditemui dimana-mana.

eh, balik lagi tentang backpackingnya, sepulang dari halmahera, pekerjaan sebenarnya telah selesai. sekarang saatnya untuk bermain, hehehe.

jadilah backpacking yang sesungguhnya dimulai. aku menumpang di rumah ija yang ber-fam hormati, dari loloda. loloda adalah nama sebuah daerah yang masuk kabupaten halmahera barat dan utara. untuk mencapai loloda, harus menggunakan kapal motor selama satu malam. karena letaknya sangat jauh di ujung dan berupa kepulauan. setiap kampung di loloda, berupa satu pulau tersendiri. dan karena letaknya yang sangat di utara, maka apabila ada gelombang besar, para nelayan loloda biasa terbawa hingga ke filipina selatan. karena itulah, tak heran kalao peralatan makan ataupun pernak-pernik masyarakat loloda banyak yang berasal dari filipina. karena sebelum perahu mereka ditarik oleh polisi laut filipina kembali ke loloda, mereka sempat membeli atau barter barang dengan orang-orang filipina.

aku menumpang di rumah ija, bukan yang di loloda. keluarganya semua sudah pindah ke ternate karena kerusuhan dulu. loloda menjadi sangat tidak aman karena bentuknya yang berpulau-pulau. sehingga tidak ada tempa perlindungan yang ideal pada saat terjadi penyerbuan dari musuh. karena itu mereka semua pindah ke ternate.

rumahnya bersih, rapi dan semua anggota keluarganya sangat ramah. keluargaija punya banyak anak angkat. sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan di dalam keluarganya, untuk mengangkat anak atau saudara pada semua orang yang sudah kehilangan salah satu atau kedua orang tua.

makanya pada awalnya aku heran karena mama, mama tua, dan abah ija bertanya padaku secara terpisah,

“kedua orang tua mbak masih ada?”

“masih”

“alhamdulillah…”

awalnya aku kebingunan mengapa pertanyaab itu selalu dilontarkan. ternyata oh ternyata.

adik angkat ija sedang sakit, dan dirawat di rumah sakit. diagnosis dokter pada awalnya adalah sakit tipes. kemudian menjadi tipes + demam berdarah. seminggu kemudian karena demamnya nggak turun-turun, dokter bilang adiknya kena malaria positif, haduh… kok bisa makin nambah gitu penyakitnya.

namanya juga sedang backpacking, maka selama 2 malam aku ikut merasakan (in her shoes) apa yang dialami ija. menginap di rumah sakit. rumah sakitnya kotor dan tampak sangat tidak…. apa ya… agak kurang peduli dengan kebersihan. aku tidur di dalam kamar rumah sakit, dan berharap nggak ada nyamuk anopheles yang menggigitku.lalu paginya kami pergi ke pasar, belanja ikan banyak sekali. orang maluku utara makanan pokonya sepertinya ikan, bukannya nasi atau sagu, hehe.

wah… ternyata tidur di rumah sakit masih menyisakan kantuk. tapi nggak apa-apa… lumayan, nemenin ija. keesokan hariny aku bertolak ke makassar. hendak menemui seorang kawan baik yang terdampar di gowa. dengan fokker 100 aku mengangkasa. ini kali pertama aku naik fokker 100. rasanya? mengerikan, hehe.

sampai di gowa, temenku menyampaikan kalau dia sedang akan dinas malam. baik…baik… dimengerti. artinya aku harus tidur sendirian di rumah dinasnya yang akan gelap karena ada pemadaman listrik (indonesia! kenapa seluruh daerah timurmu harus selalu menderita pemadaman listrik to?!). jadilah malam itu aku berjalan kaki menemaninya membelah sawah ladang, menuju kantor BMKG gowa.

dan di salah satu ruangan berukuran 5×5 yang dipenuhi segala piranti digital pendeteksi gempa, petir dan badai itu, aku tertidur pulas sampai subuh, setelah semalam sempat menyaksikan gempa yang terjadi di manokwari. saat gempa terjadi, warning receiver systemnya meraung-raung, kemudian DBBS-nya (digital broadband seismograph) segera menorehkan getaran gelombang gempa yang terjadi. saat ini seismograf yang manual sudah parkir, tidak dipakai lagi, semuanya sudah digital. lalu, kawan saya tadi segera menghitung-hitung ketinggian puncak dan lembah gelombang gempa dan mencatatnya dalam form pencatatan gempa. wah… aku baru tau loh…

sudah ya.

6 comments

  1. oya.. aku lupa bilang untuk coba ikan bakar di warung lae-lae, atau kalo versi murah ada di depan pelabuhan kecil itu. Sedap dan segar sekali. Cara bakarnya juga unik :)


  2. tadi makan pallu basa aja. aku gak bisa ngebedain rasanya dengan coto makassar dan sop saudara.. :(


  3. aduh… sayang banget.., karena setauku semua yang datang ke makasar pasti berkunjung ke warung ini deh.
    Ya udah, kapan-kapan kalo ke situ lagi.
    hehehe


  4. kalo ikan bakar tiap hari duah makan di ternate dan halmahera kemaren. seger dan sedap semua. udah mblenger skrg :p


  5. aku juga mblenger ma ikang bakar
    *ikut-ikutan mode on* :)


  6. :p angen…



Leave a Comment