
ketika hp itu berdering
June 29, 2009capek luarrr biasa.
setelah 3 malam begadang d rumah sakit, aku melunucr di pagi hari dengan sebuah mobil sedan jemputan menuju bandara juanda. ini kali pertamanya aku harus terbang dari bandara yang baru ini, biasanya cuma turun disini. jadi aku menduga2 kayak apa penampakan check-in counternya dan coba mengingat apapun yang bisa kuingat dari bandara ini. ternyata tak ada, karena aku memang belum pernah cek ini disini :p
pesawat yang kutunggu ternyata delay tanpa pemberitahuan tapi tak masalah, aku menikmatinya. karena tepat di depan mataku aku bisa melihat berbagai jenis pesawat take off dan landing serta parkir. yang parkir tepat di depan hidungku adalah pesawat-pesawat seri MD atau boeing seri 737-200. yang kecil dan sudha mulai burek lah.
beberapa kejadian yang cukup menarik adalah petugas bagasi yang mendar-mandir di landasan dengan menggunakan sepeda jengki. dan pak petugas bagasi tersebut tampak damai sekali bersepeda di sisi troli koper2 yang akan dan baru saja dikeluarkan dari bagasi pesawat. pemandangan menarik lainnya adalah para pilot yang kepanasan di ruang kokpit selagi menanti penumpang keluar dan masuk ke pesawat. karena kepanasan dan kesilauan mereka menutup kaca depan pesawat dengan lembaran2 koran, dan baru mencopotnya ketika pesawat mulai di derek ke jalan yang benar untuk tinggal landas. kemudian ada juga 2 pesawat dari airline yang sama parkir berdampingan. satunya hendak ke balikpapan, dan satunya lagi hendak ke banjarmasin. dan keduanya siap terbang pada saat yang hampir bersamaan. ketika pintu-pintu pesawat sudah ditutup rapat, tiba2 ada 2 penumpang yang turun dan lari terbirit-birit pindah ke pesawat di sebelahnya. rupanya mereka salah jurusan. hahaha. ya ampoon.
berikutnya yang menurutku paling menggelikan, ketika ada pesawat baru saja parkir, dan kemudian garbarata sudah siap ditempelkan ke badan pesawat untuk dilewati penumpang yang turun dan masuk…. eh…. para penumpangnya malah turun lewat bawah. mereka jalan kaki dengan santai saja. lhah? terus buat apa repot-repot ditempelin garbarata?
akhirnya setelah delay sekitar 1 jam-am, aku melihat pesawat yang sepertinya dan kuduga akan kunaiki parkir di landasan, sebaris troli segera menngampirinya. troli tersebut berisi koper-koper yang tidak terlalu menjulang jumlahnya, plus sebuah peti mati yang berpenampilan cukup ceria dengan motif bunga-bunga warna pink dan biru. oh.
waktu boardng tiba dan kulihat no kursiku. 23 c. oh tidak pasti aku dapat bangku paling belakang. dan kucoba memanggil kenangan tentang sebuah kursi paling belakang di dalam pesawat. apakah nyaman atau tidak. ternyata memoriku mengatakan hal yang cukup positif. tidak terlalu nyaman karena mendut-mendut tapi kata pak tristan yang kini memiliki pingguldari logam akibat kecelakaan pesawat, kursi paling belakang adalah tempat terbaik dalam sebuah kecelakaan pesawat. ok sip deh. at least masih ada harapan. biasanya bodi pesawat patah di tengah kan. huyshhh!!!
ketika antri untuk masuk ke dalam pesawat, aku tercengang karena ibu2 yang berdiri di depanku memegang boarding pass dengan nomor kursi 38. hah? pesawat apa ini, kenapa sampai ada nomor kursi 38??
yah ternyata itu memang seri 7373-900er. dan memang sungguh panjaaaaaaaang sekali. dari ujung ke ujung rasanya berkilo-kilo meter (berlebihan deh). tapi ya memang panjang.
ketika sedang mengantri panjang dalam garbarata, tampak banyak sekali ABG yang sibuk sms-an dan telepon-an. aduh, mereka tahu nggak ya kali dalam pesawa nggak boleh mengaktifkan hp. semoga saja udah tau, doaku dalam hati. tapi…. kok bahkan setelah masuk ke pesawat pun mereka masih asyik ketik-ketik di hape ya. ya sudah, aku akan berdoa lebih serius saja dalam penerbangan kali ini. hingga kemudian aku sudah duduk manis di kursi sebelah aisle, dengan sepasang suami istri duduk di sebelah kiriku. ketika pesawat mulai berlari di runway untuk mengumpulkan cukup daya untuk bertolak ke udara, pada saat itulah kami semua dibuat tercengan oleh sebuah dering hape yang sangat berisik. dan datangnya dari bangku tepat di sebelahku. ya tuhan. semoga ini cuma mimpi. dan si bapak penduduk kursi di sebelahku dengan tergopoh-gopoh meraih hapenya (secara dipelototin sama orang seisi pesawat, terutama olehku yang lebih disebabkan oleh rasa syok dan tidak percaya). setelah ia berhasil memadamkan hapenya, istrinya segera berkata “hape yang lain juga matiin, pah”. dan si bapak pun kembali merogoh ke dalam kantong kertasnya dan mengeluarkan 3 hape lainnya yang masih hidup sehat wal afiat sinyalnya. he’s gotta be kidding!! ya ampooon. sudah deh, sudah putus semua syaraf tegangku.
untung penerbangan berjalan lancar meski badan pesawat bergetar-getar. apa karena kepanjangan ya. sudah lah. sudah berlalu.
sampai di bandara tujuan, ku segera mencari tumpangan ke setasiyun kereta api untuk mencari tiket untuk perjalanan berikutnya di keesokan harinya. dan inilah hari esok itu. aku terdampar di sebuah gerai donat ala kapitalis bersama sebuah gelas besar dark choco, minuman kapitalis kesukaanku :p
selamat malam.










suwe ora mampir di kunang lawu…
ooo namanya garbarata toh
cak rony, cek sibuke rek. pasti skrg udah adem ayem karena masih terus “lanjutkan!” hehehe…
missus, macem2 namanya. kalo nggak tau garbarata, bisa disebut sebagai terowongan sambungan. heleh.