
lebih suka hujan batu di negeri sendiri
June 26, 2009aku dan beberapa teman pecinta jalan-jalan selalu memimpikan untuk bisa mengunjungi tempat-tempat lain di luar jawa. yang seringkali berujung pada mimpi tak pasti. mengapa tak pasti? salah satunya disebabkan tingginya biaya perjalanan yang harus dikeluarkan untuk bisa mencapai tempat-tempat eksotis tersebut. ujung-ujungnya, para teman tersebut akan segera mutung dan mengalihkan tujuan perjalanan ke negara tetangga semacam singapura hingga hongkong untuk memuaskan hasrat berpetualang.
hal ini tak seharusnya mengherankan, bayangkan kemarin seorang kawan tercinta yang sedang pulang kampung dari korea selatan untuk menghabiskan liburan musim panas di jogja, menuturkan bahwa dirinya hanya perlu merogoh kocek sebesar 4.500.000 rupiah saja, dan itu sudah merupakan tiket pergi-pulang. yah, meski dia sedang beruntung saja bisa mendapatkan tiket promo. namun sedikitnya kesempatan untuk mendapatkan tiket murah itu ada. nah, bandingkan dengan ini
—- banyak tamu berkunjung —-
seorang kawan yang beberapa kali pergi pulang dari papua barat, berkisah bahwa sedikitnya ia harus merogoh kocek 10 juta rupiah untuk perjalanan pergi pulang. itupun dengan banyak kendala di lapangan. misalnya keeksotikan lokasi yang tidak dilengkapi dengan air bersih, sinyal, dll. dan mahalnya berbagai moda transportasi lokal, bahkan antar desa. sebagai ilustrasi, sebuah kantor kecamatan yang dalam benak kita dipenuhi orang lalu lalang mengurus administrasi kependudukan, disana papua sana sepi sekali. dengan 2 orang staf saja, yaitu pak camat dan seorang stafnya. mengapa? salah satu alasan tak ada warga yang datang ke kecamatan adalah karena diperlukan sedikitnya 200-300 ribu biaya transportasi dari desa untuk mencapai kecamatan. ck ck ck.
saya sih… belum pernah ke papua, jadi ini ceritanya sedang bergosip saja hehe.
tadi mau cerita apa ya… jadi lupa.
oya saya intinya cuma mau bilang, kalau ketika pun pada akhirnya saya dan teman-teman saya yang pecinta jalan-jalan itu berhasil membawa diri mengunjungi pulau-pulau lain dan (berusaha) bersenang-senang disana, pada akhirnya ketika kami sampai di jawa lagi, komentar yang terucap adalah “tinggal di pulau jawa memang paling mantap”. halah…
saya pun mengamininya, meski jauh di lubuk hatig saya merasa kalimat tersebut mengkhianati jiwa pengelana yang coba saya tanamkan. bahwa seorang pengelana tidak memasukkan sebuah kota tertentu ke dalam hati, namun menukmati dan menyayangi proses perjalanan itu sendiri. wih, ngopo iki kok sampai ngomong beginian. ya, intinya saya juga sempat merasakan rasa kangen yang teramat pada bakso malang yang asin, dan bukannya bakso babi yang manis dengan kuah beraroma bumbu padang. kadang saya sangat mengidamkan bisa makan tempe telor penyetnya mas kobis yang super bedas, dibanding makanan bergulai yang bikin saya makin tembem.
sudah dulu ya. kalo udah ide lagi ntar disambung. susah ngetik di rumah sakit yang banyak pengunjung dan mbak2 perawat yang lalu lalang nanyain termos dan minta ijin nyuntik.









